Translate

Wednesday, April 10, 2013

Misteri Candi Plaosan



Orangtua dulu sering berpesan kalau pacaran jangan pergi ke candi, nanti gampang cerai. Tetapi candi yang satu ini memang unik. Banyak pasangan datang ke candi ini. Mereka justru mempunyai keyakinan bila tuah dari candi itu bakal melanggengkan cinta mereka.

Komplek Candi Plaosan yang terdiri dari dua buah candi. Candi Plaosan Kidul dan Candi Plaosan Lor memuat kepercayaan yang hingga kini masih lestari. Kedua candi yang ditemukan 1867 menurut yang meyakininya adalah beraura cinta kasih. Penelitian pertama dilakukan Ijzerman, arkeolog Belanda, pada bulan Agustus 1909 menyebut pada saat ditemukan, terdapat 16 candi kecil di lokasi yang kemudian disebut Candi Plaosan Kidul ini, namun dalam keadaan runtuh dan rusak.

Salah satu candi yang telah selesai adalah Candi Plaosan. Candi utama utara pada komplek Candi Plaosan Lor di Desa Plaosan Kecamatan Prambanan Klaten yang telah selesai pemugarannya untuk candi utama utara dengan menelan dana Rp 2 miliar lebih. Pemburu cinta, khususnya generasi muda berdatangan ke Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah. Mereka yakin, tuah candi ini merukunkan suami istri yang sering berselisih. Sementara bagi bujangan, candi ini dapat memberikan jodoh yang diinginkan.

Candi ditemukan abad ke-19. Kondisinya amat parah. Setelah direnovasi, kemegahan candi ini mulai terlihat. Sejarawan UGM mengungkap, Candi Plaosan dibangun dinasti Rakay Pikatan untuk permaisurinya yang sangat cantik, Pramudya Wardhani putri dari Samaratungga. Uniknya, kedua insan itu memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Rakay Pikatan dari Dinasti Sanjaya beragama Hindu, sedangkan Pramudya Wardhani memeluk agama Budha dari Dinansti Syailendra. Dilihat bentuk dan reliefnya, Candi Plaosan mencirikan candi agama Budha.
Kendati mereka mempunyai perbedaan yang mendasar, tetapi kehidupan cinta Rakay Pikatan dan Pramudya Wardhani tetap mesra. Bagi mereka, perbedaan itu tidak mempengaruhi cintanya. Mereka bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga kehidupan asmaranya tetap berjalan dengan baik. Pendeknya, mereka dapat menumbuhkan benih-benih cinta sejati.

Setelah keduanya meninggal dunia, candi tersebut dipandang sebagai wujud cinta suci antara lelaki dan perempuan. Karena itu, banyak pengunjung yang datang ke tempat ini agar mereka mendapatkan tuah dari kedua insan itu. Kabarnya, suami istri yang sering berselisih akan mesra lagi setelah mengunjungi tempat ini. Sedangkan bagi pengunjung yang masih lajang, mereka bisa mendapatkan jodoh seperti yang diharapkan.
Guna mendapatkan tuah cinta kasih tersebut, pengunjung yang datang ke candi ini harus membawa sesaji berupa bunga dan dupa wangi. Tentu sesaji ini sebuah semu atau sanepa bahwa yang perlu diniatkan adalah menyebar keharuman dan pengabdian kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bahasa Jawa dinyatakan bahwa menyebar bau harum dilaksanakan dengan ‘Tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama’. Wajah harus senantiasa memancarkan kegembiraan hidup, pembicaraannya juga indah menarik dan tak membuat sakit orang lain, ditambah laku bertingkah laku menuju keutamaan. Dengan kata lain hidup mengabdi Gusti, leladi ing sesami, maka tidak ayal rejeki bakal nututi.       

No comments:

Post a Comment